Sabtu, 15 Januari 2011

BSA Memiliki Nilai Sejarah



Beben Suherman

Bagi kolektor motor-motor jaman dulu (jadul), boleh jadi Birmingham Small Ingris (BSA) salah satu motor yang diburu untuk dijadikan koleksi. Meski kondisinya sudah tidak sempurna lagi, bagi pemiliknya, motor tersebut merupakan kebanggaan tersendiri karena memiliki nilai historis.

Seperti yang dikatakan Beben Suherman, memiliki motor BSA buatan Inggris tahun 1948 ada daya tarik tersendiri. Pasalnya, tidak semua orang punya kesempatan untuk mengoleksi motor jadul yang bersejarah itu.

"Apalagi motor BSA milik saya kondisinya hampir 100% utuh. Hanya bagian karburator dan cakram rem belakang yang sudah mengalami penggantian, yaitu menggunakan karburator Yamaha RX King dan rem cakram motor Suzuki Satria," kata Beben.

Beben mengungkapkan, BSA merupakan peninggalan penjajah Inggris atau sekutu yang masuk ke Indonesia. Motor ini digunakan untuk fasilitas perang sekutu.

Menurutnya, motor BSA yang tengah dipercantik ini jenis M-21 dengan kekuatan silinder 650 cc. BSA ada dua jenis, selain M-21, juga ada jenis M-20.

BSA jenis M-20 shockbreaker depannya dilengkapi dengan teleskop, belakang rigid dan kapasitas mesin 500 cc. Motor BSA M-20 biasa dipakai orang sipil. Jadi, ada BSA buat sipil, ada pula untuk tentara Inggris. Sedangkan BSA jenis M-21, shockbreaker depannya cangkrang dan belakang rigid.

Meski memahami mesin, namun Beben mengakui ada kendala dalam mengoleksi BSA, terutama memperoleh suku cadang. Ini merupakan persoalan bagi para pengoleksi BSA.

"Suku cadang BSA tidak masuk ke Indonesia. Kalaupun bisa masuk melalui importir, biaya pesannya sangat mahal. Karena itu, tidak sedikit penggemar BSA yang membuat sendiri suku cadangnya," katanya.

Mengendarai BSA, katanya, cukup nyaman karena motor ini memiliki bodi yang sangat kuat. Kekuatannya terletak pada rangkanya yang terbuat dari besi atau baja. "Shockbreaker-nya besi, tidak ada sistem menggunakan karet," katanya.

Karena itu, BSA terus diburu para penggemarnya. Harganya pun dinilai cukup bervariasi, yaitu antara Rp 20 juta hingga Rp 40 juta/unit, bergantung pada kondisi motornya.

Namun untuk mengendarai motor ini, katanya, harus mampu memperbaikinya sendiri. Pemula yang belum memahami motor tersebut tidak akan tahan dan dihawatirkan tidak bisa memperbaikinya saat mengalami kerusakan. Apalagi memiliki motor BSA harus memiliki kesabaran dan ketelatenan. "Jadi, pemilik motor ini harus orang-orang yang benar paham mesin motor," katanya. (engkos kosasih/"GM")**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar